Tips Mengatasi Anak Sering Begadang?



Tidak sedikit, lho, anak yang sering begadang atau tidur larut malam, padahal tidak ada pekerjaan atau tugas sekolah yang menumpuk. Apakah hal ini terjadi pada buah hati Bunda? Jika iya, yuk, cari tahu tipsnya di sini untuk mengatasi anak sering begadang dan membuatnya bisa tidur lebih awal.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan anak-anak tetap terjaga walau hari sudah malam. Apa pun alasannya, anak sebaiknya tidak dibiarkan begadang karena ini bisa berdampak buruk pada tumbuh kembangnya. Namun, Bunda tidak perlu khawatir jika memang ini terjadi pada Si Kecil. Kebanyakan masalah tidur anak bisa diperbaiki dengan mengubah kebiasaan sebelum tidurnya secara perlahan.

Mengapa Anak-Anak Tidak Boleh Begadang?

Anak-anak berusia 1–5 tahun umumnya membutuhkan tidur malam sebanyak 10–12 jam dan tidur siang sebanyak 1–2 jam dalam sehari. Selain untuk mengistirahatkan tubuh, tidur juga dapat menjaga daya tahan tubuh, menunjang proses pertumbuhan, serta meningkatkan kecerdasan anak.

Ketika tidur, kelenjar di otak anak memproduksi hormon pertumbuhan. Sesuai namanya, hormon ini memiliki peran yang besar dalam pertumbuhan anak. Kurang tidur bisa membuat kerja hormon ini terganggu, sehingga berdampak pada proses tumbuh kembang anak.

Tidak hanya itu, sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tidur di atas pukul 10 malam lebih berisiko mengalami gangguan perkembangan sistem saraf. Hal ini dapat menimbulkan efek negatif pada perkembangan perilakunya. Semakin malam ia tidur, semakin berat pula gangguan perilaku yang terjadi.

5 Tips agar Anak Tidak Begadang

Hingga saat ini, tidak ada manfaat yang bisa dipetik dari begadang, lho, Bun. Nah, agar Si Kecil tidak sulit untuk tidur di malam hari, yuk, terapkan 5 tips di bawah ini:

1. Terapkan jadwal tidur yang konsisten

Anak mungkin belum mengerti jadwal tidur yang tepat untuknya. Sebagai orang tua, Bunda harus menerapkan jam tidur yang konsisten padanya. Tujuannya adalah agar Si Kecil terbiasa tidur di jam yang sama setiap harinya. Lama-kelamaan, ia akan otomatis mengantuk di waktu tersebut. Hal tersebut bisa mengurangi keinginannya untuk tidur larut malam.

2. Ciptakan suasana tidur yang nyaman

Suasana kamar yang ideal untuk tidur nyenyak adalah yang gelap dan sejuk. Paparan cahaya selama tidur bisa mempersulit otak untuk beristirahat, sehingga anak tidak bisa tidur dengan nyenyak. Namun, tidak sedikit anak yang takut untuk tidur dalam suasana gelap. Buah hati Bunda mungkin adalah salah satunya.

Jika memang begitu, tidak masalah, Bun. Bunda tetap bisa menggelapkan lampu kamar Si Kecil, kok, tapi tambahkan juga lampu tidur tambahan yang memiliki cahaya redup. Sekarang juga ada banyak, lho, lampu tidur berbentuk lucu yang bisa membuat anak merasa tenang dan nyaman saat hendak tidur.

Selain itu, pastikan Si Kecil memakai pakaian yang nyaman dan menyerap keringat ya, Bun. Atur suhu kamarnya menjadi sejuk, tidak terlalu panas atau terlalu dingin, agar ia bisa tidur dengan nyaman tanpa berkeringat.

3. Hindari penggunaan gadget ketika akan tidur

Walau kerap di anggap sepele, penelitian membuktikan bahwa penggunaan gawai atau gadget, seperti televisi dan ponsel genggam, ketika anak akan tidur bisa menyebabkan ia terus terjaga walau matanya sudah mengantuk, lho. Jadi, ciptakanlah kamar bebas gadget bila Bunda ingin Si Kecil cepat tidur di malam hari.

4. Cegah anak terlalu aktif di malam hari

Terlalu asyik bermain bisa membuat anak kelewat bersemangat dan tidak mengantuk saat waktu tidur datang. Oleh karena itu, hindari memberikan Si Kecil kegiatan yang membuatnya terlampau aktif, seperti menonton TV atau bermain game pada 30–60 menit sebelum jadwal tidurnya.

Selama waktu tersebut, Bunda bisa mengajak Si Kecil bersiap-siap untuk tidur. Buatlah kebiasaan sebelum tidur yang baik untuknya, mulai dari menyikat gigi, mengganti baju dengan piyama, dan membacakan dongeng untuknya.

5. Hindari makanan atau minuman berkafein

Kafein tidak hanya ada pada kopi yang identik dengan minuman orang dewasa. Minuman bersoda, teh, cokelat panas, atau es krim juga bisa mengandung kafein dan bisa membuat anak terjaga lebih lama. Jadi, memberikan makanan dan minuman ini sebelum tidur bukanlah hal baik untuk Si Kecil.

Mengatasi anak yang sering begadang bukanlah hal yang sulit bila Ayah dan Bunda saling bekerjasama untuk menerapkan tips-tips di atas. Namun, ingat juga bahwa anak begadang juga bisa disebabkan oleh insomnia atau gangguan kecemasan.

Oleh karena itu, jika Si Kecil tetap susah diajak tidur di malam hari meski Bunda sudah melakukan cara-cara di atas, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Tips Memilih Susu Kedelai untuk Anak Yang Terbaik



Susu formula kedelai merupakan salah satu pilihan susu yang dapat diberikan kepada anak penderita alergi susu sapi, karena susu ini mengandung protein nabati dan tidak mengandung laktosa.

Kandungan protein susu kedelai mirip dengan kandungan protein susu sapi. Namun, jenis proteinnya berbeda dengan protein susu sapi yang bisa memicu reaksi alergi pada anak dengan alergi susu sapi. Selain itu, susu kedelai juga tidak mengandung laktosa yang bisa menimbulkan masalah pada penderita intoleransi laktosa. Namun, perlu diketahui bahwa pemberian susu kedelai homemade (buatan sendiri) untuk anak tidak direkomendasikan. Meski tinggi protein, kandungan nutrisi yang ada di dalam susu ini tidak sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak secara keseluruhan, sehingga berisiko menyebabkan kekurangan gizi dan gagal tumbuh.

Nah, susu kedelai yang disarankan untuk anak dengan alergi susu sapi adalah susu kedelai formula yang telah difortifikasi dengan berbagai macam nutrisi penting dalam fase pertumbuhan anak.

Susu Formula Kedelai untuk Anak dengan Alergi Susu Sapi

Alergi susu sapi merupakan jenis alergi makanan yang umum terjadi pada anak-anak. Sekitar 2–3% anak berusia di bawah 3 tahun menderita alergi susu sapi. Alergi ini muncul karena sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap kandungan protein yang terdapat pada susu sapi.

Gejala alergi susu sapi pada anak sangat beragam, di antaranya:
  • Sakit perut
  • Perut kembung
  • Diare
  • Muntah
  • Gatal dan muncul ruam pada kulit
  • Hidung meler
  • Batuk
  • Mata berair
  • Rewel atau sering menangis
  • Bengkak di bagian tubuh tertentu
  • Mengi atau sesak napas
Jika Si Kecil menderita alergi susu sapi, Bunda bisa memberikannya susu formula kedelai, karena protein dalam susu formula kedelai berbeda dengan protein dalam susu sapi yang bisa memicu reaksi alergi Si Kecil. Selain itu, susu formula kedelai juga baik untuk diberikan kepada anak yang menderita intoleransi laktosa karena memang tidak mengandung laktosa.

Cara Memilih Susu Kedelai yang Baik untuk Anak

Dalam memilih susu formula kedelai untuk anak, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan terkait kandungan nutrisi di dalamnya. Beberapa kandungan penting yang sebaiknya ada dalam susu formula kedelai anak adalah:

1. Serat

Pastikan bahwa susu formula kedelai yang diberikan kepada Si Kecil mengandung serat. Anak berusia 1−3 tahun membutuhan pasokan serat sebanyak 19 gram per hari. Pasalnya, serat memiliki peranan yang penting bagi kesehatan saluran cerna dan dapat mencegah terjadinya sembelit pada anak.

Di dalam saluran cerna, serat juga berfungsi sebagai makanan bagi bakteri baik usus yang bertugas untuk mendukung kerja daya tahan tubuh anak.

Namun, memenuhi kebutuhan serat anak melalui makanan saja kadang sulit, karena banyak anak yang tidak suka makan sayur atau buah. Oleh karena itu, asupan serat tambahan pada susu formula kedelai bisa sangat membantu.

2. Asam lemak omega-3 dan omega-6

Untuk menunjang perkembangan otak anak, pilih susu formula kedelai yang mengandung asam lemak omega-3, seperti asam alfa-linolenat, EPA, dan DHA, dan omega-6, seperti asam arakidonat dan asam linoleat. Penelitian menunjukkan bahwa dalam jumlah yang seimbang, asam lemak ini dapat membantu meningkatkan fungsi otak.

Anak yang mendapatkan asupan omega-3 dan omega-6 dengan cukup umumnya memiliki daya ingat dan daya tangkap yang lebih baik. Bukan hanya itu, asupan asam lemak omega-3 yang cukup juga bahkan bisa menurunkan risiko munculnya gejala asma pada anak.

3. FOS dan Inulin

Pastikan susu formula kedelai untuk anak mengandung frukto-oligosakarida (FOS) dan inulin. Kedua kandungan ini merupakan prebiotik yang dapat berfungsi mirip dengan prebiotik alami pada ASI.

Prebiotik penting untuk kesehatan saluran cerna anak karena mampu meningkatkan jumlah bakteri baik dalam usus. Lebih dari itu, jika kesehatan pencernaan Si Kecil terjaga, daya tahan tubuhnya juga akan lebih kuat.

4. Kolin

Kolin merupakan senyawa yang berperan penting dalam menunjang perkembangan otak, gerakan otot, kerja sistem saraf, dan metabolisme tubuh. Senyawa ini diproduksi dalam jumlah sedikit oleh tubuh sehingga perlu didapatkan dari makanan sehari-hari.

Anak berusia 0−12 bulan membutuhkan asupan kolin sebanyak 125−250 mg per hari, sedangkan anak usia 1−3 tahun membutuhkan kolin sebanyak 200 mg per hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pastikan susu formula kedelai yang diberikan kepada Si Kecil mengandung kolin.

5. Zat besi

Nutrisi selanjutnya yang sebaiknya ada dalam susu formula kedelai untuk anak adalah zat besi. Anak yang mendapatkan cukup asupan zat besi cenderung lebih kebal terhadap infeksi, karena mineral ini dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Zat besi juga memiliki peranan yang sangat penting dalam penyebaran oksigen ke seluruh tubuh. Jika distribusi oksigen ke seluruh tubuh berjalan dengan baik, energi tubuh, kemampuan berkonsentrasi, fungsi otak, dan kemampuan motorik anak akan meningkat.

6. Taurin

Yang terakhir, pastikan susu formula kedelai untuk anak mengandung taurin atau asam amino sulfonat. Nutrisi yang dapat ditemukan pada daging dan ikan ini berfungsi untuk menunjang perkembangan otak Si Kecil.

Tak hanya itu, taurin juga berperan penting dalam meningkatkan imunitas tubuh, menjaga keseimbangan elektrolit, menjaga kadar kalsium, dan mendukung fungsi otak dan mata anak.

Selain memperhatikan kandungan nutrisi pada susu formula kedelai, Bunda juga perlu memperhatikan aturan penggunaannya. Berikan susu formula kedelai kepada anak sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan produk.

Jika Si Kecil alergi terhadap susu sapi dan Bunda ingin memberikannya susu formula kedelai, tidak ada salahnya Bunda berkonsultasi dulu dengan dokter untuk mengetahui jenis dan jumlah susu formula kedelai yang perlu diberikan kepada Si Kecil.

Begini Cara Alami Mengecilkan Pori-Pori Wajah Dalam Waktu Singkat



Cara alami mengecilkan pori-pori wajah ada beragam, mulai dari menggunakan pembersih wajah yang tepat hingga mengonsumsi makanan bergizi. Cara alami ini penting untuk diterapkan agar wajah terlihat lebih mulus, sehingga Anda dapat tampil lebih percaya diri.

Cara alami mengecilkan pori-pori wajah bisa jadi pilihan tepat jika Anda ingin menghilangkan pori-pori besar, tapi enggan menghabiskan banyak uang untuk perawatan kulit yang menggunakan peralatan canggih. Pori-pori besar bisa dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya adalah produksi minyak berlebih pada wajah, elastisitas kulit yang menurun, . Nah, dengan mengatasi pemicu tersebut, pori-pori besar jadi bisa teratasi.

Cara Alami Mengecilkan Pori-Pori Wajah

Berikut ini adalah cara alami mengecilkan pori-pori wajah yang dapat dengan mudah Anda lakukan sendiri di rumah:

1. Membersihkan wajah secara rutin

Salah satu cara alami mengecilkan pori-pori wajah adalah membersihkan wajah secara rutin sebanyak 2 kali sehari, yaitu di pagi dan malam hari sebelum tidur. Saat membersihkan wajah, pastikan sabun pembersih wajah yang digunakan sesuai dengan jenis kulit dan bersifat non-comedogenic.

2. Menggunakan pelembap

Untuk membantu mengatasi masalah pori-pori besar pada wajah, pastikan kulit wajah Anda tetap lembap. Oleh karena itu, gunakan selalu pelembap wajah setiap usai membersihkan wajah.

Pelembap wajah yang digunakan juga sebaiknya disesuaikan dengan jenis kulit. Misalnya Anda memiliki kulit berminyak, maka sebaiknya pilih pelembap yang ringan dan berbahan dasar air.

3. Menggunakan tabir surya

Gunakan tabir surya SPF 30 atau lebih agar kulit terlindung dari paparan sinar matahari langsung. Jika kulit terlalu banyak terpapar sinar matahari, elastisitas kulit bisa berkurang dan membuat pori-pori semakin membesar.

4. Melakukan eksfoliasi

Eksfoliasi wajah adalah salah satu cara alami mengecilkan pori-pori wajah yang sering ditinggalkan. Padahal, cara ini efektif untuk menghilangkan sumbatan pada pori-pori yang membuatnya terlihat lebih besar.

Lakukanlah eksofoliasi wajah secara rutin setidaknya 1–2 kali dalam seminggu. Anda bisa melakukan eksfoliasi di rumah dengan bahan alami yang Anda buat sendiri. Namun perlu diingat, eksfoliasi bisa membuat kulit menjadi kering, sehingga Anda harus segera mengoleskan pelembap setelahnya agar kulit tetap terhidrasi.

5. Menggunakan masker tanah liat

Masker tanah liat dapat membantu mengangkat minyak berlebih, kotoran, dan sel kulit mati sehingga dapat membantu mengecilkan pori-pori wajah. Anda disarankan untuk menggunakan masker tanah liat 1–2 kali dalam seminggu.

Namun, jangan barengi penggunaan masker tanah liat dengan eksfoliasi wajah, karena kombinasi keduanya mungkin menyebabkan iritasi kulit, terutama jika kulit Anda sensitif.

6. Mengonsumsi makanan sehat

Cara alami mengecilkan pori-pori wajah tidak cukup dengan perawatan dari luar saja. Anda juga perlu mengimbanginya dengan perawatan dari dalam, yaitu dengan mengonsumsi makanan sehat.

Makanan yang tinggi lemak dan minyak tidak sehat sebaiknya dibatasi karena bisa membuat pori-pori tersumbat, yang kemudian akan memicu pori-pori besar pada wajah. Selain itu, Anda juga bisa mengonsumsi makanan yang mengandung kolagen supaya elastisitas kulit bisa membaik dan pori-pori tampak mengecil.

7. Mengonsumsi air putih yang cukup

Pastikan pula Anda mengonsumsi air putih yang cukup, setidaknya 2 liter per hari. Konsumsi air putih yang cukup tidak hanya dapat membuat kulit menjadi lembap dari dalam, tapi juga dapat menghilangkan racun dan kotoran di dalam pori-pori, sehingga membuatnya tampak lebih kecil.

Cara alami mengecilkan pori-pori wajah bisa dibilang cukup mudah. Namun, wajah tanpa pori-pori besar tidak bisa didapat hanya dengan perawatan yang sesekali. Dibutuhkan setidaknya 3 bulan untuk bisa melihat hasilnya. Jadi, cara ini harus diterapkan dengan disiplin.

Jika cara alami mengecilkan pori-pori wajah di atas telah dilakukan tetapi tidak kunjung menunjukkan hasil yang memuaskan, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Kenapa Kemoterapi Menyebabkan Rambut Rontok



Salah satu efek samping kemoterapi dalam pengobatan kanker adalah rambut rontok. Diperkirakan, setidaknya 60–65% pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan mengalami kondisi ini. Mengapa kemoterapi bisa menyebabkan rambut rontok dan apakah efek samping ini bisa dicegah?

Rambut rontok adalah salah satu efek samping kemoterapi untuk pengobatan kanker yang paling umum terjadi. Kondisi ini dapat dialami oleh pasien pria maupun wanita, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kerontokan rambut akibat kemoterapi pun bervariasi, mulai dari yang ringan hingga berat dan bisa saja menimbulkan kebotakan.

Penyebab Rambut Rontok ketika Kemoterapi

Pengobatan kanker dengan kemoterapi memanfaatkan obat-obatan keras untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh sel-sel kanker yang berkembang dengan cepat di dalam tubuh.

Sayangnya, obat-obatan tersebut juga dapat menyerang sel-sel dan jaringan tubuh yang normal, termasuk sel keratinosit yang berada di folikel atau akar rambut. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa kemoterapi dapat menyebabkan rambut rontok.

Kerontokan atau kebotakan rambut akibat penggunaan kemoterapi tidak hanya dapat terjadi pada rambut di kepala, melainkan juga pada bulu mata, alis, bulu ketiak, rambut di kemaluan, dan rambut di sekujur tubuh lainnya.

Tingkat keparahan rambut rontok karena kemoterapi bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk:
  • Dosis obat kemoterapi
  • Frekuensi kemoterapi
  • Jenis obat dan cara pemberian obat kemoterapi (obat kemoterapi yang diberikan melalui suntikan lebih berisiko menyebabkan rambut rontok)
  • Kombinasi obat kemoterapi yang digunakan
Kapan Pasien Kemoterapi Mulai Mengalami Rambut Rontok?

Rambut rontok biasanya mulai terjadi sekitar 2–4 minggu atau bahkan dalam hitungan beberapa hari sejak kemoterapi pertama kali dilakukan. Pada kasus tertentu, efek samping kemoterapi juga mungkin baru muncul dalam waktu 1–2 bulan setelah pasien menjalani kemoterapi.

Rambut yang rontok terlebih dahulu biasanya adalah rambut yang berada di kepala, lalu diikuti oleh rambut di sekitar wajah, tubuh, dan kemaluan. Terkadang, kulit kepala akan terasa lunak dan sakit sebelum rambut mulai rontok.

Kerontokan rambut dapat terjadi secara bertahap dan perlahan. Awalnya, rambut yang rontok mungkin sedikit, namun lama-kelamaan akan bertambah banyak hingga akhirnya menimbulkan kebotakan. Untuk beberapa kasus, kerontokan rambut juga bisa belangsung sangat cepat.

Banyaknya rambut yang rontok dapat terlihat di bantal, sisir, dan wastafel atau saluran pembuangan kamar mandi. Kerontokan rambut akan terus berlanjut selama kemoterapi dilakukan hingga beberapa minggu setelah pengobatan tersebut dihentikan.

Bisakah Rambut Tumbuh Kembali?

Rambut rontok akibat efek samping kemoterapi dapat tumbuh kembali dalam 2–6 bulan setelah semua sesi kemoterapi berakhir. Rambut yang baru tumbuh akan terasa sangat halus dan tipis, serta dapat memiliki tekstur atau warna yang berbeda dari rambut sebelumnya.

Namun, perbedaan ini biasanya hanya bersifat sementara. Seiring berjalannya waktu, sel-sel rambut dan kulit yang mengandung pigmen (zat warna alami kulit dan rambut) akan berfungsi kembali, rambut baru akan tumbuh dan terlihat seperti rambut sebelumnya.

Bagi kebanyakan pasien kanker yang menjalani kemoterapi, rambut mereka akan pulih sepenuhnya dalam waktu 6­–12 bulan kemudian. Namun, ada juga yang membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

Apakah Rambut Rontok karena Kemoterapi Bisa Dicegah?

Hingga saat ini, tidak ada pengobatan yang secara efektif dapat mencegah kerontokan rambut akibat kemoterapi. Beberapa pasien ada yang memakai topi pendingin (cooling cap) selama menjalani kemoterapi untuk mengurangi kerusakan pada akar rambut.

Topi ini bekerja dengan cara mengurangi aliran darah ke kulit kepala, sehingga hanya sedikit obat kemoterapi yang mencapai folikel rambut di kepala. Namun, tidak semua pasien kanker yang menjalani kemoterapi berhasil merasakan efek dari topi pendingin ini.

Selain dengan penggunaan topi pendingin tersebut, dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk melakukan beberapa hal berikut untuk meringankan efek samping rambut rontok:
  • Menggunakan produk perawatan rambut yang berbahan kimia lembut, misalnya sampo dan kondisioner untuk bayi
  • Menggunakan sisir berbulu lebar dan lembut
  • Menghindari penggunaan hair dryer, alat catok, dan bahan pengeriting, pelurus, atau pewarna rambut
  • Mengoleskan minyak atau pelembap ke kulit kepala, jika kulit kepala terkelupas atau terasa gatal
  • Menutup kepala dengan topi ketika berada di bawah sinar matahari
Jika kemoterapi menyebabkan rambut rontok hingga botak, Anda bisa mengenakan topi, syal, atau pashmina untuk melindungi kepala dari sinar matahari langsung dan menjaga kepala agar tetap hangat. Selain itu, oleskan minyak atau pelembab jika kulit kepala terasa kering dan gatal.

Sebelum Anda menjalani kemoterapi untuk mengobati kanker, jangan ragu bertanya kepada dokter mengenai beragam efek sampingnya. Apabila Anda khawatir terhadap efek samping yang akan muncul, termasuk rambut rontok, cobalah konsultasikan dengan dokter untuk mengantisipasi hal tersebut.

Ketahui Fakta Seputar Manfaat Madu untuk Diet



Sebagian orang meyakini bahwa mengonsumsi madu dapat menurunkan berat badan. Namun, apakah manfaat madu untuk diet memang sudah terbukti benar? Yuk, simak jawabannya dalam artikel berikut.

Madu merupakan salah satu bahan alami yang dikenal memiliki berbagai khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh. Selain sebagai campuran makanan dan minuman, madu juga telah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan luka, misalnya luka bakar atau luka lecet, serta meredakan batuk dan iritasi kulit. Tak hanya itu, sebagian orang juga memanfaatkan madu untuk menurunkan dan mencapai berat badan ideal. Namun, apakah manfaat madu untuk diet benar-benar terbukti secara ilmiah?

Menilik Manfaat Madu untuk Diet

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengganti gula pasir dengan madu diduga dapat mencegah kenaikan berat badan dan mengurangi nafsu makan. Konsumsi madu secara rutin diiringi dengan pola makan sehat juga diketahui dapat mengurangi kolesterol.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut yang dapat membuktikan bahwa madu dapat memberi manfaat untuk diet atau terbukti efektif dalam menurunkan berat badan.

Dalam 100 gram madu (sekitar 5 sendok makan), terkandung sekitar 300 kalori dan 80 gram gula. Jumlah ini memang lebih sedikit dibandingkan dengan 100 gram gula yang mengandung setidaknya 390 kalori.

Meski kandungan kalori dan gula dalam madu lebih sedikit dibandingkan gula pasir biasa, jumlah tersebut masih tergolong tinggi. Terlalu sering mengonsumsi madu justru dapat menyebabkan penumpukan kalori di dalam tubuh. Seiring waktu, kondisi tersebut dapat memicu kenaikan berat badan.

Selain itu, kandungan gula di dalam madu juga dapat dicerna dengan cepat oleh tubuh dan menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Kondisi ini berpotensi memicu rasa lapar, kenaikan berat badan dalam jangka panjang, hingga meningkatkan risiko obesitas.

Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan atau minuman dengan kadar gula tinggi diduga dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, seperti resistensi insulin, diabetes, gangguan hati, penyakit jantung, depresi, demensia, dan kanker.

Haruskah Berhenti Mengonsumsi Madu?

Madu dapat dijadikan sebagai pilihan untuk bahan pemanis makanan dan minuman karena dinilai lebih sehat. Selain memiliki kalori dan gula yang lebih rendah dibandingkan dengan gula biasa, madu juga mengandung banyak antioksidan seperti polifenol dan flavonoid.

Antioksidan tersebut diketahui memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, di antaranya mengontrol kadar gula darah dan kolesterol, memelihara fungsi dan kesehatan organ tubuh, serta menurunkan risiko penyakit tertentu, seperti penyakit kardiovaskular dan kanker.

Namun, perlu diingat bahwa manfaat tersebut baru bisa diperoleh jika Anda tidak mengonsumsi madu dalam jumlah berlebihan. Batasi asupan madu hingga tidak melebihi 4 atau 5 sendok teh per hari.

Daripada mengandalkan madu untuk diet, lebih baik lakukan diet yang efektif, yaitu dengan membatasi asupan makanan tinggi kalori, kolesterol, garam dan gula, menambah asupan protein dan serat, serta perbanyak aktivitas fisik dan olahraga.

Jika Anda merasa kesulitan untuk mengontrol berat badan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan membantu Anda menentukan jenis makanan yang baik dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, serta cara yang sehat dan efektif untuk menurunkan berat badan.

Ini Efek Samping Sering Pakai Headset



Banyak orang sering mendengarkan musik menggunakan headset. Namun, Anda perlu hati-hati terhadap efek samping sering pakai headset, apalagi bila volume suara yang didengar terlalu keras. Bila terus-menerus dilakukan, kebiasaan ini bisa menyebabkan gangguan pendengaran.

Headset merupakan speaker atau alat pengeras suara berukuran kecil yang dipasang di telinga. Mendengarkan musik dan menonton film dari laptop atau handphone dengan headset memang terasa menyenangkan dan lebih nyaman karena tidak menimbulkan suara yang mengganggu orang lain.

Namun, jika headset terlalu sering digunakan, apalagi jika volume suaranya terlalu keras, hal ini justru dapat merusak sel-sel saraf pendengaran. Ketika sel saraf ini rusak, telinga akan kesulitan atau bahkan tidak bisa menghantarkan rangsang suara menuju otak. Kondisi ini membuat Anda sulit untuk mendengarkan suara.

Bahaya Terlalu Sering Menggunakan Headset

Tingkat kebisingan suara ditentukan dalam satuan desibel. Suara percakapan normal umumnya memiliki tingkat kebisingan sektiar 60 desibel. Sementara itu, suara keras seperti bunyi mesin, suara di lokasi pembangunan gedung, atau musik rock bisa mencapai sekitar 100–120 desibel.

Untuk menjaga fungsi pendengaran, Anda disarankan untuk tidak terlalu sering mendengarkan suara bising atau nyaring. Batas tingkat kebisingan yang direkomendasikan adalah 85 desibel, dengan waktu paparan maksimal 8 jam setiap harinya.

Suara keras bisa bersumber dari banyak hal, dan salah satunya adalah melalui penggunaan headset. Terlalu sering menggunakan headset, terlebih dengan volume suara keras, bisa menimbulkan beberapa masalah kesehatan, di antaranya:

Tinnitus

Tinnitus adalah kondisi ketika Anda mendengar suara berdengung. Menurut beberapa penelitian, kebiasaan mendengarkan musik menggunakan headset dengan volume suara tinggi selama 3 jam atau lebih dapat meningkatkan risiko terjadinya tinnitus.

Tinnitus bisa semakin parah dan membuat pendengaran Anda terganggu, jika Anda sudah terlalu lama atau sering mendengarkan suara keras.

Gangguan pendengaran

Gangguan pendengaran juga dapat terjadi setelah Anda terpapar suara keras, meskipun hanya dalam waktu singkat. Ketika mengalami gangguan pendengaran, Anda mungkin akan kesulitan atau bahkan tidak bisa mendengar suara secara normal.

Gangguan pendengaran ada yang bersifat sementara dan permanen. Gangguan pendengaran sementara biasanya hanya berlangsung singkat dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Namun, gangguan pendengaran permanen bisa saja terjadi jika Anda mendengarkan musik dengan suara yang sangat keras dalam jangka waktu lama, terlebih melalui headset.

Hilangnya pendengaran

Efek samping sering pakai headset yang cukup berbahaya adalah kehilangan pendengaran. Kondisi ini biasanya terjadi secara bertahap dan terkadang baru terdeteksi melalui tes pendengaran.

Kemampuan mendengar Anda mungkin telah berkurang atau hilang apabila Anda mulai menaikkan volume suara ketika menonton film, tidak jelas mendengar suara, atau kesulitan mendengar dan memahami pembicaraan orang lain.

Jika sudah mengalami kehilangan pendengaran, Anda mungkin akan membutuhkan alat bantu dengar untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain atau mendengarkan suara.

Tips Mendengarkan Musik dengan Headset

Mendengarkan musik menggunakan headset memang tidak dilarang, asal tidak dilakukan secara berlebihan. Agar efek samping sering pakai headset bisa dicegah, Anda bisa mengikuti beberapa tips berikut ini:
  • Atur volume suara atau musik. Sebaiknya volume suara tidak lebih dari 60% volume maksimal.
  • Hindari penggunaan headset selama lebih dari 1 jam.
  • Istirahatkan telinga setidaknya selama 5 menit setiap jamnya jika penggunaan headset lebih dari 1 jam.
Apabila Anda sering memakai headset dan mengalami keluhan tertentu, seperti telinga berdenging, sering meminta lawan bicara untuk mengulang apa yang dikatakannya, harus menaikkan volume suara ketika menonton televisi dan mendengarkan radio, atau merasakan nyeri pada telinga, sebaiknya segera periksakan telinga Anda ke dokter.

Untuk menilai kemampuan pendengaran dan kondisi telinga Anda, dokter spesialis THT akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan fisik telinga dan pemeriksaan penunjang, seperti tes pendengaran dan audiometri.

Bila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda mengalami gangguan telinga akibat penggunaan headset, dokter akan memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Ketahui Manfaat Buah Delima untuk Ibu Hamil



Ada banyak manfaat buah delima untuk ibu hamil. Selain mampu meningkatkan imunitas tubuh, konsumsi buah delima juga mampu menjaga kesehatan gigi dan mulut, menurunkan tekanan darah, serta mencegah cacat lahir.

Manfaat buah delima untuk ibu hamil diperoleh berkat kandungan nutrisi penting di dalamnya. Nutrisi-nutrisi tersebut meliputi vitamin C, vitamin K, folat, antioksidan, dan kalium. 

Manfaat Buah Delima untuk Ibu Hamil

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang bisa Bumil petik dari buah delima:

1. Meningkatkan daya tahan tubuh

Kandungan vitamin C pada buah delima bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh ibu hamil. Selain itu, kandungan antioksidan pada buah ini juga cukup tinggi, bahkan 3 kali lebih banyak daripada anggur merah dan teh hijau. Antioksidan berperan dalam menangkal radikal bebas, sehingga turut berkontribusi terhadap peningkatan imunitas tubuh.

2. Menjaga kesehatan gigi dan mulut

Manfaat buah delima untuk ibu hamil berikutnya adalah untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Ibu hamil lebih rentan untuk mengalami gigi berlubang dan masalah gusi. Padahal, kesehatan gigi dan gusi yang buruk selama kehamilan dapat menyebabkan banyak permasalahan, mulai dari preeklamsia hingga kelahiran prematur

3. Menurunkan tekanan darah

Tekanan darah tinggi adalah salah satu masalah kehamilan yang bisa terjadi dan berdampak fatal bagi ibu maupun janin. Kandungan kalium yang terdapat pada buah delima mampu membantu menurunkan tekanan darah dengan cara mengurangi kadar garam berlebih dalam tubuh dan melemaskan otot-otot dinding pembuluh darah.

Meski begitu, konsumsi makanan yang mengandung kalium saja tidak cukup. Bumil juga perlu menerapkan pola hidup sehat dan rutin berkonsultasi dengan dokter kandungan agar tekanan darah selama kehamilan tetap normal.

4. Mencegah cacat lahir

Selain meningkatkan daya tahan tubuh ibu hamil, kandungan antioksidan pada buah delima juga berperan dalam mencegah cacat lahir pada bayi. Tak hanya itu, buah ini juga merupakan sumber asam folat yang sangat penting dalam pertumbuhan mendukung tumbuh kembang janin.

Mencukupi kebutuhan asam folat selama kehamilan terbukti dapat menurunkan risiko bayi lahir cacat. Jadi, kombinasi antioksidan dan asam folat pada buah delima membuat konsumsi buah ini saat hamil cukup disarankan guna mencegah terjadinya cacat lahir.

Keamanan Konsumsi Buah Delima Beserta Biji-Bijinya

Buah delima dapat dikonsumsi secara langsung ataupun dijadikan sebagai jus buah. Daging buah ini termasuk unik karena berbentuk butiran-butiran kecil dan masing-masing butiran mengandung biji. Hal ini menimbulkan pertanyaan, “Amankah jika buah ini dikonsumsi bersama dengan biji-bijinya?”

Jawabannya adalah aman-aman saja. Malahan, biji delima juga mengandung beragam nutrisi penting, seperti vitamin E dan serat, yang baik untuk kesehatan. Namun, ibu hamil yang menderita sembelit kronis perlu berhati-hati, karena konsumsi buah delima beserta biji-bijinya dapat meningkatkan risiko terjadinya obstruksi usus.

Manfaat buah delima untuk ibu hamil memang beragam, tetapi Bumil tetap harus berhati-hati dalam mengonsumsinya. Meski jarang terjadi, beberapa orang dapat mengalami reaksi alergi, seperti gatal, pembengkakan, dan sesak napas, setelah mengonsumsi buah delima.

Jangan Anggap Sepele Ini Bahaya Memendam Emosi



Banyak orang tidak menyadari bahaya memendam emosi dan memilih untuk menutupinya. Padahal, emosi yang dipendam bisa berpengaruh negatif terhadap kondisi fisik maupun mental, serta tidak jarang memberikan dampak buruk pada hubungan dengan orang lain.

Memendam emosi adalah suatu kondisi ketika pikiran Anda menghindari, tidak mengakui, atau tidak dapat mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat, baik secara disadari ataupun tidak disadari. Beberapa emosi yang seringkali dipendam antara lain adalah kemarahan, frustrasi, kesedihan, ketakutan, dan kekecewaan.

Kebiasaan memendam emosi tidak akan membuat emosi itu hilang, justru malah akan membuat emosi tersebut tinggal di tubuh Anda. Alih-alih membuat lega, memendam emosi justru akan membuat Anda merasa lebih terbebani.

Macam-Macam Bahaya Memendam Emosi

Meski tidak berbentuk, emosi sering kali memiliki pengaruh yang besar pada kehidupan. Jadi, tidak heran jika memendam emosi yang seharusnya disampaikan bisa berdampak negatif pada diri kita. Berikut ini adalah beberapa bahaya memendam emosi yang perlu diwaspadai:

1. Melemahkan sistem kekebalan tubuh

Memendam emosi memang tidak akan langsung menyebabkan suatu penyakit. Namun, kondisi ini dapat melemahkan sitem kekebalan tubuh, sehingga membuat Anda lebih mudah terserang berbagai jenis penyakit, mulai dari penyakit ringan seperti pilek, hingga penyakit kronis seperti kanker.

2. Mengakibatkan kecemasan berlebih

Emosi yang dipendam terus-menerus juga bisa menyebabkan gangguan cemas. Gangguan cemas berkepanjangan mengakibatkan otak memproduksi hormon stres secara berkala. Hal ini pada akhirnya bisa berdampak negatif pada kesehatan fisik, seperti sakit kepala, mual, muntah, hingga kesulitan bernapas.

3. Mengakibatkan depresi

Emosi negatif yang tidak tersalurkan dengan baik juga dapat mengakibatkan depresi. Jika sudah sampai pada tahap ini, emosi negatif akan berubah menjadi perasaan hampa, putus asa, bahkan perasaan ingin mengakhiri hidup.

Gejala yang timbul akibat depresi antara lain adalah sering merasa lelah, sulit tidur pada malam hari, dan kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang biasanya Anda sukai. Depresi juga bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti sakit kepala, penurunan berat badan, hingga gangguan pernapasan.

4. Menyebabkan berbagai penyakit kronis

Produksi hormon stres yang tinggi akibat memendam emosi juga bisa meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Jika terjadi dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan Anda berisiko lebih tinggi untuk menderita berbagai penyakit kronis, seperti stroke dan gagal jantung.

Selain itu, hormon stres yang tinggi juga dapat mengganggu proses pengiriman sinyal dari otak ke usus, sehingga Anda menjadi rentan terkena gangguan sistem pencernaan, misalnya irritable bowel syndrome.

Mengungkapkan Emosi dengan Cara yang Sehat

Guna menghindari bahaya memendam emosi, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk melepaskan emosi negatif, antara lain:
  • Tanyakan kepada diri Anda sendiri, perasaan apa yang sedang Anda rasakan saat ini. Hal ini penting karena Anda perlu betul-betul memahami perasaan Anda sendiri sebelum bisa menyampaikannya ke orang lain.
  • Cobalah untuk mengungkapkan perasaan Anda melalui suatu media jika Anda kesulitan untuk mengungkapkannya secara langsung, misalnya dengan mencari lagu yang cocok dengan perasaan Anda.
  • Latih diri untuk mengungkapkan perasaan dengan kalimat yang diawali dengan kata “saya”, misalnya “saya merasa bingung”, “saya merasa takut”, atau “saya merasa kecewa”.
  • Ceritakan perasaan Anda kepada orang-orang yang Anda percayai.
  • Dengarkan saat orang lain sedang mengungkapkan perasaan mereka, agar secara tidak langsung Anda terbiasa dengan sikap terbuka dan bisa menerapkannya pada diri Anda sendiri.
Cobalah terapkan cara-cara di atas untuk melepaskan emosi dengan sehat guna menghindari bahaya memendam emosi. Namun, jika Anda masih kesulitan mengekspresikan emosi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Beragam Manfaat Kuning Telur Bebek bagi Tubuh



Di balik rasanya yang lezat, ada banyak manfaat kuning telur bebek yang bisa kita dapatkan dengan mengonsumsinya, mulai dari menjaga kesehatan mata hingga menurunkan kadar kolesterol jahat pada tubuh. Simak penjelasan lengkapnya di sini!

Manfaat kuning telur bebek bisa diperoleh dari macam-macam nutrisi yang dikandungnya. Kuning telur bebek mengandung asam lemak sehat, seperti asam oleat dan lesitin; lipoprotein, asam amino esensial dan non esensial; kolin; dan berbagai macam mineral, seperti kalsium dan kalium. Selain itu, kuning telur bebek juga kaya akan antioksidan, seperti lutein, zeaxanthin, dan karoten.

Manfaat Kuning Telur Bebek bagi Tubuh

Berbagai macam nutrisi yang terkandung pada kuning telur bebek dapat membawa banyak manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Menjaga kesehatan dan fungsi otak

Kolin yang terkandung dalam kuning telur bebek sangat bermanfaat bagi kesehatan otak dan sistem saraf. Nutrisi ini dapat melindungi Anda dari gangguan memori atau gangguan kognitif, seperti demensia dan penyakit Alzheimer, di masa tua nanti.

Selain itu, kuning telur bebek juga baik jika dikonsumsi oleh ibu hamil, karena kolin yang terkandung pada kuning telur bebek sangat bermanfaat bagi perkembangan otak janin yang sehat.

2. Menjaga kesehatan mata

Manfaat kuning telur bebek untuk kesehatan mata berasal dari kandungan antioksidan lutein dan zeaxanthin. Kedua antioksidan ini dapat melindungi mata dari berbagai penyakit, seperti katarak dan degenerasi makula, yang banyak terjadi terutama pada orang lanjut usia.

3. Mendukung produksi sel darah merah

Kandungan vitamin B12 pada kuning telur bebek tergolong cukup tinggi, bahkan 1 kuning telur hampir bisa memenuhi kebutuhan harian vitamin ini. Vitamin B12 yang terkandung pada kuning telur bebek memiliki peranan penting dalam memproduksi sel darah merah yang sehat.

Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam proses produksi energi tubuh. Mencukupi kebutuhan vitamin B12 dalam sehari diduga dapat memberikan Anda tambahan energi untuk beraktivitas.

4. Terhindar dari penyakit kronis

Warna oranye pada kuning telur bebek berasal dari pigmen alami yang disebut karoten. Karoten merupakan senyawa antioksidan yang dapat melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas yang dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan stroke.

Selain itu, kandungan asam oleat dalam kuning telur bebek juga bermanfaat untuk menekan peradangan, mengurangi pengentalan darah, serta memperbaiki keseimbangan gula darah dan tekanan darah.

5. Menurunkan kadar kolesterol jahat

Kuning telur bebek mengandung lesitin dan asam oleat yang dapat menurunkan kadar kolesterol jahat, sehingga tubuh terhindar dari penyakit, seperti penyakit jantung, stroke, atau penyakit arteri perifer.

Agar manfaat kuning telur bebek bisa dirasakan secara maksimal, Anda juga harus memperhatikan cara menyimpan dan menyajikannya. Telur bebek dapat disimpan di dalam kulkas hingga 3 minggu setelah pembelian.

Karena risiko infeksi bakteri Salmonella, telur bebek lebih baik untuk dimasak hingga matang, bagaimanapun cara memasaknya. Pastikan bagian putih dan kuning telur sudah benar-benar memadat dan tidak cair.

Jika Anda memiliki alergi terhadap telur ayam, ada kemungkinan Anda juga alergi terhadap telur bebek. Jadi, sebelum mengonsumsi telur bebek untuk merasakan manfaat kuning telurnya, ada baiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Terakhir diperbarui: 7 Juli 2020
Ditinjau oleh: dr. Meva Nareza

Daftar Makanan Tinggi Garam yang Perlu Diwaspadai



Membatasi konsumsi makanan tinggi garam merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga tekanan darah tetap stabil dan memelihara kesehatan jantung. Jika konsumsinya tidak dibatasi, makanan tinggi garam dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan komplikasinya.

Garam adalah mineral kristal yang terbuat dari natrium (sodium) dan klorida. Meski umumnya digunakan sebagai bumbu masakan, garam juga dapat digunakan sebagai pengawet makanan serta penambah rasa, tekstur, dan warna makanan. Kandungan natrium dan klorida bermanfaat untuk mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh, mendukung kinerja dan fungsi saraf, serta mengendalikan kontraksi otot tubuh.

Namun, manfaat garam untuk kesehatan tubuh tersebut baru bisa diperoleh asalkan Anda mengonsumsi garam dalam takaran yang sesuai, yaitu tidak lebih dari 1 sendok teh garam atau setara 1.500 miligram (mg) natrium tiap harinya.

Jika dikonsumsi terlalu banyak, garam bisa menyebabkan tekanan darah meningkat dan memicu hipertensi. Penyakit ini bisa menimbulkan berbagai komplikasi, seperti stroke, penyakit jantung, dan kerusakan ginjal.

6 Jenis Makanan Tinggi Garam

Makanan tinggi garam tidak selalu berasal dari makanan yang rasanya asin karena banyak dibumbui garam. Makanan yang banyak mengandung bahan tertentu seperti MSG, baking soda, baking powder, dinatrium fosfat, natrium alginat, natrium sitrat, dan natrium nitrit, juga umumnya tergolong sebagai makanan tinggi garam atau natrium.

Kandungan tersebut biasanya bisa Anda temukan dalam beberapa jenis makanan tinggi garam berikut ini:

1. Makanan cepat saji

Kebanyakan makanan cepat saji atau fast food mengandung kalori dan natrium yang tinggi. Sebagai contoh, dalam sebungkus mi instan terkandung sekitar 750–950 mg natrium atau mungkin lebih dari itu. Jumlah ini setara dengan kandungan natrium pada 1 potong pizza atau 1 hamburger ukuran sedang.

Sementara itu, kandungan natrium dalam 1 porsi ayam goreng cepat saji bisa mencapai 2.100 mg. Kandungan natrium pada kentang goreng juga tergolong tinggi.

Selain itu, ikan dan daging olahan, seperti ikan asin, ikan yang diasap, daging ham, sosis, dan berbagai jenis frozen food atau makanan beku lainnya juga termasuk dalam makanan tinggi garam.

2. Makanan kaleng

Makanan yang dikemas dalam kaleng, seperti kornet dan ikan kalengan, juga umumnya tergolong dalam kategori makanan tinggi garam. Rata-rata kandungan natrium pada makanan kalengan ini berkisar antara 200–700 mg per porsi.

Sayur dan buah kalengan juga termasuk dalam daftar makanan tinggi garam. Dalam setengah cangkir sayur kalengan saja bisa terkandung sekitar 350–500 mg natrium.

3. Produk olahan susu

Produk olahan susu merupakan salah satu sumber kalsium dan vitamin D. Namun, terlalu sering mengonsumsinya juga tidak baik bagi kesehatan Anda.

Beberapa produk susu dan olahannya, seperti keju, mentega, dan margarin, diketahui mengandung garam dalam jumlah banyak. Dalam sekitar 30–50 gram produk olahan susu, terkandung sekitar 60–400 mg natrium.

Namun, jumlah natrium atau garam tersebut juga tergantung pada jenis keju, mentega, atau margarinnya. Sebagai alternatif, Anda bisa memilih produk olahan susu yang rendah garam atau berlabel unsalted.

4. Camilan

Makanan tinggi garam selanjutnya adalah camilan ringan, terutama yang rasanya asin atau gurih. Contohnya keripik kentang, kacang asin, jamur krispi, kulit ayam goreng, dan gorengan.

Kandungan natrium pada seporsi camilan ini rata-rata berkisar antara 250-400 mg. Jumlah garam atau natrium pada camilan bisa lebih tinggi jika ditambahkan banyak perasa.

5. Sereal instan dan biskuit

Sereal merupakan salah satu jenis makanan yang banyak dikonsumsi saat sarapan. Meski mengandung serat yang cukup tinggi, sebagian besar sereal kemasan juga tinggi akan kandungan natrium. Beberapa produk sereal juga banyak mengandung gula.

Satu porsi sereal instan bisa mengandung sekitar 200–300 mg natrium. Ini belum termasuk kadar natrium dari segelas susu yang biasanya dicampurkan dalam sereal.

Selain sereal instan, menu sarapan lain yang mengandung natrium tinggi adalah biskuit, pancake, kue kering, dan donat yang rata-rata mengandung sekitar 400–800 mg natrium per porsinya.

Selain 5 jenis makanan di atas, ada pula jenis pangan tinggi garam yang sering tidak kita sadari, yaitu acar, asinan, saus cabai, saus tomat, saus salad, kecap, dan berbagai bumbu masakan instan.

Cara Mengurangi Kebiasaan Mengonsumsi Makanan Tinggi Garam

Kelebihan garam bisa berdampak bagi kesehatan tubuh Anda. Jika Anda memiliki kebiasaan sering mengonsumsi makanan tinggi garam, cobalah mulai kurangi asupan makanan tersebut mulai dari sekarang demi kesehatan Anda.

Ada beberapa cara mengurangi asupan garam yang bisa Anda coba, di antaranya:

Batasi dan kurangi porsi makan

Pertama, mulailah dengan mengurangi porsi makanan tinggi garam. Jika Anda sering ngemil makanan tinggi garam, cobalah untuk menggantinya dengan pilihan camilan lain yang lebih sehat, misalnya buah-buahan, rujak, atau yoghurt.

Cermati label kemasan

Ketika berbelanja makanan atau minuman tertentu, periksalah kadar natrium yang tertera pada label kemasan. Jika tersedia, Anda sebaiknya memilih makanan atau minuman yang memiliki kadar natrium rendah. Produk tersebut biasanya berlabel unsalted atau low sodium.

Olah masakan sendiri
Dibandingkan makanan olahan atau makanan beku dalam kemasan, lebih baik buat sendiri makanan dari bahan pangan yang masih segar. Ketika memasak makanan tersebut, kurangi takaran garam, MSG, penyedap rasa, kecap, atau saus. Makanan tersebut akan lebih sehat karena mengandung garam atau natrium yang lebih sedikit.

Bila cara-cara tersebut dilakukan secara rutin dan konsisten, lambat laun kebiasaan Anda untuk mengonsumsi makanan tinggi garam yang asin dan gurih pun akan berkurang. Alhasil, Anda bisa terhindar dari berbagai risiko gangguan kesehatan yang mungkin terjadi apabila terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi garam.

Jika Anda merasa sulit menentukan pola makan sehat atau memilih makanan yang rendah garam, Anda bisa berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui jenis makanan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Terakhir diperbarui: 5 Juli 2020
Ditinjau oleh: dr. Kevin Adrian